

a Film By Sani Nasril
Sebuah Film Pendek Dokumenter Mengenai Kain Cigondewah

Bandung sering disebut dengan kota fashion, namun rahasia dari warna warni kota tersebut justru tersembunyi jauh di tepian kota. Di balik gang gang sempit Cigondewah yang penuh debu dan stigma negatif. Ribuan tangan bekerja dalam sunyi dengan secercah harapan disetiap jahitannya. Dari keterbatasan dan isolasi yang bertahun-tahun mereka tanggung, warga Cigondewah justru mengolah sesuatu yang nyaris tak dianggap. Barang sisa, limbah yang terbuang menjadi produk yang mampu berdiri sejajar dengan standar industri global.
Sinopsis

Bandung selalu identik dengan kreativitas dan mode. Tapi bagi saya, jantung dari seluruh keriuhan itu berawal dari satu hal yang paling sederhana yaitu kain. Saya tumbuh di pinggiran kota ini dan merasakan sendiri betapa jauh jarak antara dua dunia yang sesungguhnya saling menghidupi. Di pusat kota, fashion berkilau di etalase-etalase yang ramai. Di pinggiran kota, para produsen bahan bakunya justru hidup dalam senyap yang hampir terlupakan. Warna-warna cerah yang memenuhi toko-toko di pusat kota itu memudar begitu kita melangkah ke ujung Bandung ini. Sebuah Warna di Ujung Kota Bandung lahir dari ironi itu. Cigondewah adalah tulang punggung industri tekstil Bandung, namun ia tumbuh dalam keterasingan dengan banyak stigma negatif, jauh dari sorotan yang selama ini lebih suka memotret kilau hasil akhirnya ketimbang asal-usulnya. Film ini ingin membalik arah pandang itu, bukan ke etalase, melainkan ke tangan-tangan yang bekerja di baliknya.
Dokumenter ini dibuat bukan hanya berasal dari kondisi yang timpang itu. Melainkan kreatiditas dari warganya. Dari keterbatasan dan isolasi yang bertahun-tahun mereka tanggung, warga Cigondewah justru mengolah sesuatu yang nyaris tak dianggap. Barang sisa, limbah yang terbuang menjadi produk yang mampu berdiri sejajar dengan standar industri global. Ini bukan sekadar kisah tentang potret mirisnya kehidupan. Ini adalah kisah tentang cara sebuah komunitas mendefinisikan ulang nilainya sendiri. Saya membuat film ini karena saya percaya bahwa cerita terkuat kadang bukan berasal dari pusat keramaian, melainkan dari tempat-tempat yang selama ini kita lewati begitu saja.
Director Statement






